Senin, 24 Oktober 2022

59. “Jangan Ragu-Ragu”

 

Saat-saat terakhir ketika Yesus hendak meninggalkan murid-murid
untuk Kembali ke Sorga, Yesus memberikan sebuah perintah yang
kita sebut dengan perintah agung, perintah yang besar, perintah
yang mulia, perintah yang taka da duanya tertulis sebagai berikut:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan
ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Matius 29:19-20


Yesus sedang berbicara kepada murid-murid-Nya, jika pada
hari ini kita mengaku sebagai murid Kristus itu artinya perintah
agung ini adalah untuk kita, Rasul Paulus menulis dalam buku
1 Korintus 9:16 “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak
mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah
keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan
Injil.”


Menginjil adalah keharusan bagi murid-murid Kristus, jika
injil yang kita miliki tidak kita sampikan itu artinya kecelakaan bagi
kita, pertanyaannya adalah kapan saya bisa menginjil? Rasul Paulus
menulis surat kepada anak imannya sebagai berikut:
II Timotius
4:2 “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik
waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah
dengan segala kesabaran dan pengajaran.”


Menegur dan menasehati adalah cara terbaik untuk
menyampaikan injil, tapi kita hidup dalam dunia yang punya
tatanan dan tatakrama sosial, etika dan estetika maka bagaimana
cara terbaiknya? Rasul Paulus kemabali menulis: 1 Tesalonika 5:1-
3 “Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan
tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai
saudaramu, perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan
perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh
kemurnian. Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda.”


Bagaimana cara kita memulai penginjilan? Mulailah dari
rumah tangga saudara, mulai dari saudara-saudara kita sendiri,
orang tua, mertua, anak, ipar, besan, kemudian ke lingkungan 
sekitar rumah kita. Kita tidak perlu harus menjadi missionary
kesebrang lautan, Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.


11. PERWAKILAN PENDIDIKAN ALLAH DI DUNIA

 

Ayah dan ibu adalah wakil Allah di dunia ini untuk mengajar
anak-anak mereka, seperti yang telah dilakukan oleh
Abraham, untuk memeliharakan jalan-jalan Tuhan. Mereka perlu
menyelidiki Alkitab dengan rajin, untuk mengetahui apakah jalan
Tuhan itu, supaya mereka dapat mengajarkannya kepada rumah
tangganya. Nabi Mikha berkata, “Hai manusia, telah diberitahukan
kepadamu apa yang baik, dan apakah yang dituntut Tuhan dari
padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan
rendah hati di hadapan Allahmu?”


Supaya dapat menjadi guru, hendaklah para ibu dan bapa
menjadi pelajar, mengumpulkan terang yang dari Allah dan oleh
nasihat dan teladan mereka membawakan terang yang indah itu ke
dalam pendidikan anak-anak mereka. Dalam hal ini, setiap orang
tua dalam rumah tangga menjadi pendeta, dokter, perawat, dan 

guru, mengikat anak-anak mereka kepadanya dan kepada Allah,
mendidik mereka itu supaya menghindarkan segala sifat, agar satu
waktu kelak tidak melawan pekerjaan Allah di dalam tubuh, serta
mengajar mereka itu merawat semua bagian dari anggota tubuh
yang hidup.


Ibu haruslah selamanya menjadi yang terkemuka di dalam
pekerjaan mendidik anak-anak ini; sedangkan kewajibankewajiban yang tekun dan penting terletak pada pundak bapa.


Seorang ibu, oleh pergaulan yang senantiasa dekat kepada anak-anaknya, khususnya ketika mereka masih kecil, menjadi pendidik dan teman mereka yang istimewa. Ia harus memperhatikan dengan seksama dalam mempertumbuhkan kebersihan dan peraturan  pada diri anakanaknya, memimpin mereka itu dalam membentuk tabiat dan selera yang benar. Ia harus melatih anak-anaknya supaya rajin,
percaya diri, dan suka menolong orang lain, supaya hidup dan bertindak serta bekerja seolah-olah mereka selalu berada dalam pemandangan Allah.

Ayat renungan: “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya” (Amsal 29:15).
Þ Pelajari lebih lanjut dalam buku Rumah Tangga Advent pasal 28

10. YANG LAIN MENJADI NOMOR DUA

 

Setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini adalah milik Yesus
Kristus, itu sebabnya ia harus dididik dengan pengajaran dan
teladan untuk mengasihi dan menurut Allah. Tetapi sayang banyak
ibu dan bapa yang melalaikan tugas yang diberikan Allah kepada
mereka, oleh gagal mendidik dan mengajar anak-anaknya.
Sesungguhnya ibu dan bapa harus mengamati pikiran yang sedang
berkembang dan mau menerima pelajaran serta menjadikan segala
sesuatu dalam kehidupan sebagai nomor dua terhadap
kewajibanmu. Kewajibanmu yang paling utama dan terutama
adalah mendidik anak-anakmu di dalam nasihat dan pemeliharaan
Tuhan.


Para ibu dan bapa sekali-kali tidak boleh membiarkan keluh
kesah dalam usaha mereka, juga jangan ada istiadat dunia dan
mode dunia yang mengendalikan kuasa mereka itu sehingga
mereka melalaikan anak-anak mereka ketika anak-anak masih bayi
dan gagal memberikan kepada mereka pengajaran yang pantas
pada waktu usia mereka semakin bertambah.


Suatu alasan yang paling besar mengapa begitu banyak kejahatan di
dalam dunia pada zaman ini adalah karena para ibu dan bapa memenuhi
pikiran mereka dengan hal-hal yang lain daripada yang terpenting, yaitu
bagaimana menyesuaikan diri mereka kepada pekerjaan untuk mengajar anak-anak mereka dengan lemah lembut di dalam jalan Tuhan. Para ibu dan bapa seharusnya tidak mempunyai pekerjaan yang penting selain hal ini, sehingga engkau dapat memberikan kepada anak-anakmu arti dalam penurutan dan berharap sepenuhnya kepada Tuhan. Jikalau engkau
melakukannya, maka engkau akan menemukan anak-anakmu berada di sampingmu, suka membantu dan bekerja sama dengan engkau dalam hal yang engkau anjurkan kepada mereka. Engkau dapat melihat mereka bertumbuh dalam roh penurutan dan takut akan Tuhan.

Ayat renungan: “Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang” (Mazmur 127:5).
Þ Pelajari lebih lanjut dalam buku Rumah Tangga Advent
pasal 28)


Rabu, 12 Oktober 2022

58. "“Melakukan Untuk Diri Sendiri”"

 

Memberi itu sama dengan menerima. Tidak logis tetapi
benar. Mungkin kita tidak pernah pikirkan dan sadari bahwa
sebenarnya ketika kita melakukan sesuatu maka kita sedang
lakukan itu untuk dirinya sendiri. Jadi ketika Anda memberi
pengetahuan tentang kebenaran yang menyelamatkan mengenai
Yesus (BERSAKSI) kepada orang lain maka pada dasarnya Anda
sedang menyampaiakan kabar keselamatan itu kepada diri Anda
sendiri.


Dan setiap keinginan dan kerinduan untuk menginjil
datangnya dari Tuhan atau dengan kata lain semua itu terjadi
karena pengaruh Roh Kudus dalam kehidupan anda dan saya,
selanjutnya ketika kita melakukannya dengan tulus ikhlas maka 
hasilnya adalah dahsyat bukan bagi mereka yang mendengar tetapi
bagi diri anda sendiri.


Seperti banyak cerita ajaib tentang penginjilan, ketika Anda
menginjil dengan ikhlas maka justru Andalah yang akan menerima
kembali dalam jumlah berlipat ganda - Pengkhotbah 11:1 Lempar
kanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama
setelah itu.

Sama seperti sudara dan saya tidak dapat melihat hukum
gravitasi dengan mata telanjang, tetapi kita dapat melihat dengan
mata sendiri bahwa semua benda yang jatuh dari atas akan selalu
jatuh kebawah, contohnya ketika kita memetik kelapa maka kelapa
kelapa itu akan jatuh ke tanah. Seperti itulah hukum "memberi
sama dengan hukum menerima".


Yang perlu anda dan saya lakukan adalah menginjil dan
menginjil, sebab pertobatan adalah pekerjaan Roh Kudus, yang
harus kita ingat adalah ketika kita menginjil maka kita sedang
menginjil diri sendiri, ketika kita melihat orang-orang bertobat dari
kehidupan yang berdosa maka pada saat yang sama kita juga
bertobat seperti mereka


5. HAMBA TANPA NAMA

            Ia seorang kepala bagian rumah tangga di gereja. Setiap hari Jumat dan Sabtu, ia bertugas menjaga agar semua peralatan e...