Sabtu, 27 Februari 2021

24. ”MENCARI DOMBA”

 Apa yang membuat kita tetap bertahan melayani Tuhan di gereja dan komunitas kita saat terjadi situasi yang sukar? Kita mungkin peka terhadap kebutuhan orang lain, tetapi itu tidak cukup. Kita juga tidak boleh membiarkan diri dikendalikan oleh kebutuhan kita, yakni keinginan untuk dihargai dan dicintai orang lain. Hanya Allah yang dapat me-menuhi kebutuhan kita yang amat besar itu. Semakin kita mencoba memuaskan kebutuhan kita dengan cara apa pun, bahkan dengan pelayanan sekalipun, kita malah semakin tidak puas.

Bahkan kasih kepada umat Allah, yang adalah dombadomba-Nya, takkan membuat kita bertahan. Masalahnya, terkadang manusia kehilangan kasih dan tidak tahan uji. Kita bahkan bisa membuat mereka kecil hati. Satu-satunya pendorong yang cukup bagi pelayanan kita adalah kasih kepada Tuhan dan kasih Kristus yang menguasai kita (2 Korintus 5:14). Tak ada motivasi lain. Dalam buku My Utmost for His Highest, Oswald Chambers menulis, "Jika kita melayani demi manusia, kita akan mudah jatuh dan patah hati, ... tetapi jika motivasi kita untuk melayani Allah, kita akan selalu melayani sesama dengan penuh rasa syukur."

Dalam salah satu percakapan terakhirnya dengan Petrus, Yesus bertanya kepadanya, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Petrus menjawab, "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Lalu Yesus berkata, "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Yohanes 21:17) .

23. “TUGAS MENGINJIL”

 Tugas pemberitaan Injil adalah tugas semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Kita bukan hanya menjadi jemaat yang aktif beribadah di gereja setiap hari Sabat. Namun kita juga harus memberitakan Injil kepada orang yang belum percaya kepada Kristus. Pemberitaan Injil adalah tugas yang tidak bisa ditawar. Itu merupakan kewajiban dari setiap orang yang telah mengikatkan dirinya dalam persekutuan dengan tubuh Kristus. Dalam 1 Korintus 9:16, rasul Paulus dengan tegas dan lantang berkata: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”. Landasan pemberitaan Injil bagi orang Kristen adalah:: 

1. Orang percaya diperintahkan untuk memberitakan Injil. Setiap orang percaya mempunyai kewajiban untuk memberitakan Injil (Kisah 10:42;16:10; 1 Korintus 1:21) 

2. Pemberitaan Injil disampaikan kepada segala bangsa dan juga kepada orang-orang yang menolaknya. Hal ini berarti bahwa tugas kita adalah memberitakan Injil, entah diterima atau ditolak, tetap penginjilan harus dilakukan (Matius 24:14; 2 Tesalonika 2:10). 

3. Pemberitaan Injil dilakukan dengan berbagai cara. Ada strategi yang perlu dilakukan supaya penginjilan kita efektif yaitu dengan cara bisa beradaptasi dengan orang yang kita Injili ( 1 Korintus 9:19-23) 

4. Orang-orang perlu dipersiapkan dan diutus untuk memberitakan Injil (Roma 10:25)

Sudah merupakan kewajiban dan tanggungjawab dari setiap orang yang telah percaya pada Yesus untuk mewartakan Injil kepada setiap orang, baik melalui perkataan maupun perbuatan atau cara hidup kita, karena pewartaan Injil itu adalah amanat agung dari Tuhan Yesus Kristus ( Matius 28:18-20). Penginjilan akan lebih bermanfaat jika orang yang kita Injili dan dan dimenangkan dapat memahami apa kehendak Tuhan dalam dirinya. Kita harus memberitakan Injil, sebab dengan menjadi pemberita Injil, kita telah menjadi mitra kerja Allah. Carilah jiwa bagi Tuhan, karena satu orang diselamatkan, maka akan ada sukacita di Sorga dan para malaikat bersorak-sorai (Lukas 15:7- 10).

22. “PENGINJIL YANG HEBAT”

 Mengapa Paulus disebut sebagai seorang penginjil yang hebat? Artikel ini akan mengupas lebih dalam tentang kelebihan Paulus dalam dunia penginjilan. Paulus lahir di sebuah keluarga Yahudi yang sangat menjunjung tinggi Hukum Taurat. Ia adalah seorang yang terpelajar, yang sejak kecil telah mendapat pendidikan Yahudi. Masa remajanya dihabiskan di Sinagoge, dan ia pernah belajar di bawah asuhan guru besar Gamaliel. Sebelum mengenal Kristus, ia adalah penganiaya jemaat, dia juga seorang yang menyetujui kematian Stefanus.

Ketika dalam perjalanan ke Damsyik, Paulus bertemu dengan Kristus. Ia tersungkur ke tanah dan matanya buta. Kemudian, ia dibawa kepada seorang imam yang bernama Ananias. Setelah Ananias berdoa baginya, ia dapat melihat kembali. Inilah titik balik baginya. Dan ketika bertobat, ia yang dahulu bernama Saulus, kini bernama Paulus. Setelah pertobatannya, Paulus tidak langsung terjun dalam pelayanan. Ia terlebih dahulu menimba pengalaman ke berbagai daerah, bahkan sampai ke Arab selama kurang lebih sepuluh tahun. Setelah siap, barulah ia mulai terjun ke ladang pelayanan, di mana pelayanannya sungguh memberkati banyak bangsa. Hal ini ditandai dengan berdirinya jemaat-jemaat baru di luar bangsa Yahudi.

Pelayanan penginjilan Rasul Paulus menjadi inspirasi yang tak terbatas bagi para penginjil saat ini. Mengapa dikatakan tak terbatas? Karena banyak sisi dari pelayanannya yang tidak lekang oleh waktu, maksudnya prinsip-prinsip penginjilan yang dilakukan abad pertama dapat pula diterapkan pada abad-abad selanjutnya bahkan sampai saat ini. Apa sajakah kelebihan pelayanan penginjilan Paulus?

Kerinduan Paulus untuk mengenalkan Kristus kepada orang-orang yang belum diselamatkan sangat besar. Hal ini terlihat dari pernyataan-pernyataannya dalam bentuk ucapan syukur kepada jemaat-jemaat yang teguh berdiri dalam Injil Kristus Yesus (Roma 1:8, 1Korintus 1:14, Filipi 1:3,5, Kolose 1:3). Kerinduannya itu tidak hanya diungkapkan secara tertulis saja, tapi sungguhsungguh dinyatakan dalam kehidupan pelayanannya. Ia mengunjungi jemaat-jemaat dan memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi, yang tentu saja awam terhadap Injil.  

Hati yang sangat mengasihi orang-orang yang belum percaya, sangat dibutuhkan oleh para penginjil sebagai motivator yang terkuat dalam pelayanan penginjilan. Inilah salah satu teladan pelayanan penginjilan Rasul Paulus. Metode penginjilan Paulus unik. Ia berkhotbah, berkunjung ke rumah-rumah jemaat, berdiskusi, dan membuat mujizat dalam nama Yesus. Tempattempat yang digunakan untuk memberitakan Injil sangat strategis, yaitu di sinagoge, di pasar-pasar, di rumah-rumah, dan di tempat belajar (Tiranus). Bahkan, di penjara sekalipun ia memberitakan Injil dan banyak orang yang percaya kepada Yesus. Selain itu, ia menulis surat kepada jemaat-jemaat yang pernah didirikannya, dan surat itu dibacakan bergantian, sehingga menguatkan iman pembacanya.

Dalam pelayanannya, ia menggunakan jalur darat dan laut. Ia naik kapal, dan pernah karam. Tetapi kebanyakan ia berjalan kaki, tujuannya agar ia dapat bertemu langsung dengan banyak orang, sehingga semakin banyak orang yang mendengar Injil. Kelebihannya juga ditunjukkan dengan kemandiriannya untuk membiayai pelayanannya dan tidak mengkomersialkan pelayanannya. Ia bekerja sebagai pembuat tenda. Walaupun tidak ada fasilitas yang cukup untuknya, seperti sponsor, alat transportasi, dan lain lain, tetapi hal-hal tersebut tidak mengendorkan semangatnya dalam memberitakan Injil.

Hasil pelayanan Paulus tentu saja dapat dilihat dari berdirinya gereja-gereja di banyak tempat. Banyak orang (Yahudi atau bukan Yahudi) yang menjadi percaya kepada Kristus. Tulisantulisannya meneguhkan iman orang-orang percaya dan memberikan pemahaman iman Kristen yang paling solid dan lengkap. Kelebihan Paulus dalam pelayanan, bukan semata-mata karena kamampuannya, tetapi karena kasih karunia Tuhan yang telah melimpah dalam hidupnya. Dialah Paulus, seorang penginjil yang hebat. 

21. “DIPANGGIL”

 Dalam Perjanjian Baru, istilah "dipanggil" ('kletos') dan "panggilan" ('klesis') muncul 22 kali. Semuanya menyatakan panggilan Tuhan kepada umat-Nya untuk sesuatu maksud yang rohani. Panggilan- panggilan ini tidak melulu panggilan untuk menjadi seorang pendeta atau missionari, melainkan seluruh jemaat dipanggil oleh Tuhan dimana 'kletos' + kata depan 'ek' = 'ekklesia'. Istilah "ekklesia" muncul dalam Perjanjian Baru sebanyak 115 kali, yang berarti "the called-out ones" dan diterjemahkan sebagai "gereja" Suatu gereja yang didirikan oleh Tuhan pasti terdiri atas individu- individu yang dipanggil oleh Tuhan. Mereka dipanggil ke luar dari keduniawian dan masuk ke dalam Kristus. Segala aktivitas dan cara hidup dlm gereja seharusnya tidak "serupa dengan dunia" (Roma 12:2), melainkan "berpadanan dengan panggilan itu" (Efesus 4:1).

Ada banyak orang yang melayani Tuhan secara "temporary" (sementara). Artinya, kalau ia "senang hati, lancar, banyak berkat, dipuji" maka ia mau melayani Tuhan. Tetapi kalau keadaan memburuk, maka ia tidak lagi berminat untuk melayani. Ini adalah sifat manusia yang egois. Ingatlah bahwa "Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan- Nya" (Roma 11:29). Panggilan Tuhan bersifat "permanen", bukan "sementara". Yang terakhir, bagaimana kita mengetahui panggilan Tuhan atas diri kita masing-masing?  

1. "Berusahalah sungguh-sungguh" (2Petrus 1:10a) untuk mengetahui panggilan Tuhan. 

2. "Jikalau kamu melakukannya (taat), kamu tidak akan pernah tersandung" (2Petrus 1:10b).

3. Mintalah (berdoa) ... supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan-Nya (Efesus 1:17-18). 

4. Semakin kita mengasihi Tuhan, semakin kita meyakini panggilan Tuhan. Menurut Roma 8:28, "mereka yang mengasihi Dia" identik dengan "mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Maka ketaatan terhadap perintah Tuhan dan dorongan kasih kepada- Nya itulah yang mendasari pelayanan kita.

20. “PANGGILAN DAN PELAYANAN”

 Bagi orang Kristen, panggilan merupakaan anugerah Tuhan, bukan terutama sebagai yang dihasilkan oleh manusia dari dalam dirinya sendiri. Yang dibutuhkan adalah kesediaan seseorang untuk mengembangkan dan menata pemberian tersebut agar dapat melaksanakan dengan baik. Hidup manusia adalah panggilan. Pemahaman terhadap hidup manusia sebagai panggilan Tuhan, dimulai dari proses penciptaan manusia yang seturut gambar dan rupa Allah. Gambar dan rupa Allah tersebut berarti bahwa sifat dan karakter Ilahi terpancar dalam hidup manusia. Oleh karena itu, terkandung rencana Ilahi yang hendak diwujudkan dalam ciptaan yang baik tersebut yaitu mengahadirkan keselamatan, kesejahteraan dan keadilan bagi ciptaan.

Dalam memahami hidup manusia sebagai panggilan Tuhan yang bertujuan untuk damai sejahtera bagi ciptaan, kerapkali manusia melihat panggilan hidupnya sebagai penderitaan, bukanlah damai sejahtera. Dengan demikian muncul pertanyaan, apakah dipanggil Tuhan identik dengan penderitaan? atau, apakah harus mengalami penderitaan? dan dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi, bagaimanakah kita memahami totalitas hidup manusia sebagai panggilan? Tuhan tidak pernah merancangkan penderitaan bagi umat-Nya melainkan rancangan damai sejahtera. Semua gerak hidup manusia merupakan proses panggilan Tuhan dalam rangka keselamatan (Yesaya 55:8).

Tuhan selalu merancangkan hal yang mendatangkan damai sejahtera dan keselamatan bagi manusiadan seluruh ciptaanNya sepanjang masa. Untuk memenuhi rencananya itu, Allah telah memanggil orang-orang yang dipilihNya untuk memberitakan recanaNya yang diungkapkan melalui firmanNya.Tuhanlah yang berkuasa melukiskan perjalanan sejarah kehidupan manusia dan bertujuan untuk keselamatan bagi manusia itu sendiri. Jika manusia terjatuh karena penderitaan dunia akibat dosa, Tuhan akan menguatkan kembali dengan kuasa-Nya (Yeremia 31:4). Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Tuhan.

Kesaksian gereja atas karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus diformulasikan oleh gereja dalam berbagai cara baik dengan perkataan dan perbuatan. Tugas gereja di dunia ini adalah sebagi penyalur keselamatan dikarenakan Yesus sendiri dalam panggilanNya juga penuh pengorbanan dan penuh karya penyelamatanNya. Panggilan gereja dapat diambil dari pemahaman bahwa gereja adalah misi dan pelayanan. Pada hakekatnya misi gereja yang dipanggil dan dikuduskan untuk menjalankan pelayananya. 

19. ”MENJANGKAU ORANG LAIN”

 Pemahaman orang-orang Yahudi tersebut telah membelengunya “kaku” melakukan keselamatannya. Mereka terkurung dan hanya menjadi dirinya sendiri, menutup diri kepada orang yang bukan Yahudi dan tidak menghargainya. Oleh sebab itu melihat Petrus dituntun Roh Kudus melayani ke Kaisarea kepada Kornelius dan orang orang yang bukan Yahudi membuat orang-orang Yahudi marah dan menuduh Petrus bersalah telah melanggar aturan tradisi yang selama ini mereka pelihara, karena itu Petrus harus mempertanggung jawabkan sikapnya tersebut. 

Memang Petrus tidak cukup memiliki pengetahuan dan pemahaman untuk mengubah tradisi lama Yahudi tersebut tapi Allah melalui Roh Kuduslah yang melakukanNya. Ketika Petrus sedang mengajar orang orang kristen di Kaisarea Roh Kudus turun atas mereka sehingga mereka dipenuhi Roh dan mereka berkatakata dalam bahasa Roh. Melihat kejadian tersebut membuat jemaat yang dari kelompok Yahudi tercengang-cengang keheranan. 

Allah tidak membeda-bedakan orang. Perhatian dan cinta kasih-Nya tidak bisa dibatasi hanya di wilayah tertentu. Rahmat dan anugrah-Nya tidak dicurahkan hanya kepada tokoh tertentu, suku tertentu, gender tertentu, atau budaya tertentu saja. Oleh sebab itu Allah tidak boleh dibatasi karya-Nya di kawasan orang Yahudi. Dengan perkataan lain Allah tidak membangun tembok, tetapi Allah justru membangun jembatan. Sekarang saatnya bagi kita untuk memperluas pergaulan kita agar bisa menjangkau mereka yang masih berada jauh diluar keselamatan.  

Gerakan Roh memperbarui cara hidup berjemaat; mengubah pandangan lama seperti yang dipahami dan dipertahankan oleh orang orang Yahudi yaitu memperoleh keselamatan hanya oleh karena menjadi keturunan Abraham, menjadi orang Yahudi sebab kepada Abraham dan keturunannyalah Allah telah menjanjikan keselamatan yang kekal. “Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?” (Kisah para rasul 11 : 17)

18. “TIDAK TERBELENGGU”

 Pekerjaan Tuhan tidak terbelenggu, walaupun gereja berada dalam penganiayaan. Bahkan saat pemimpinnya ada yang dianiaya, dipenjara, bahkan dibunuh. Mengapa? Karena yang menghidupkan gereja adalah Roh Kudus. Bagaimana menghayati pekerjaan Roh Kudus lewat peristiwa yang tragis, tetapi sekaligus berjaya? Firman Allah berkata, “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus”. (Kisah Para Rasul 12 : 7). Dua hal yang kita perlu tahu tentang pekerjaan Roh Kudus dalam penginjilan, yaitu: 

Pertama, Roh Kudus bekerja dan menyatakan kuasa-Nya melalui doa-doa umat Tuhan yang dipanjatkan tak putus (ayat 5, 12). Nyata sekali, saat Petrus mendapatkan pembebasannya secara spektakuler, doa-doa umat sedang dipanjatkan. Memang, baik Petrus (ayat 11) maupun jemaat yang berdoa (ayat 13-16) tidak dengan segera menyadari karya Roh Kudus itu  

Kedua, Roh Kudus berkarya dengan membuat kacau rencana musuh. Bagi Herodes, tindakan membunuh Petrus akan menambah pesona dirinya yang telah dianggap simpati kepada orang-orang Yahudi di Yerusalem (ayat 3-4). Maka kegagalan untuk menghadapkan Petrus di tengah orang Yahudi merupakan pukulan buat popularitasnya. Tidak heran kalau Herodes mengamuk dan membunuh anak buahnya (ayat 19). Orang-orang Yahudi mengharapkan lewat habisnya para pemimpin Kristen, punahlah juga gerakan kekristenan yang bagi mereka merupakan duri di dalam daging. Oleh pekerjaan Roh Kudus tersebut, “segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi” (ayat 11) itu tidak tercapai.

Tuhan dapat memakai penderitaan untuk mencapai maksud-Nya. Umat Tuhan harus yakin, bahwa tidak ada yang dapat membelenggu pekerjaan-Nya. Ia bisa memakai penderitaan untuk menguatkan umat bertekun sehati dalam doa. Ia bisa mengubah penderitaan menjadi kemenangan. “Tuhan memanggil mereka yang memikul tanggung jawab besar, mereka yang dipercayakan Tuhan pelbagai bakat yang berharga, menggunakan talenta kepintaran dan uang mereka dalam pelayanan-Nya... Para pekerja yang menaruh minat akan terbawa untuk menawarkan diri mereka sendiri guna pelbagai bidang usaha misionaris.” EGW, Pelayan Injil, hal. 314.

Rabu, 24 Februari 2021

5 "MENJADI SEPERTI KRISTUS"

 

 Tugas panggilan untuk memberitakan Injil, kabar baik dalam Kristus tentang pertobatan dan pengampunan dosa dipercayakan oleh Tuhan kepada setiap kita, yaitu orang-orang yang percaya kepada-Nya dan mengikut Dia. Tugas panggilan itu melekat pada diri kita, pertama-tama karena kita sendiri sudah mengalami bagaimana kabar baik itu mengubah hidup kita, membebaskan dan melepaskan kita dari belenggu dosa, membawa kita pada kehidupan baru bersama Kristus dan di dalam Kristus. Kita dipanggil dan ditetapkan Kristus menjadi saksi-Nya (Lukas 24:48) dan Ia telah memperlengkapi kita dengan kuasa-Nya (Kisah 1:8), sehingga tugas panggilan itu adalah tugas yang memungkinkan (possible) untuk kita lakukan.

Perintah itu diberikan Tuhan sebagai sebuah ketetapan, celakalah kita jika kita tidak melakukannya, karena itu berarti kita tidak taat pada Tuhan dan kita akan berhutang pada orang-orang yang seharusnya dapat diselamatkan hidupnya melalui berita Injil yang kita sampaikan, tetapi menjadi binasa karena kita tidak melakukan apa yang menjadi tugas panggilan kita.  

Pemberitaan itu adalah sebuah keharusan. Jika kita telah menyelesaikan semua tugas panggilan itu, biarlah masing-masing kita berkata kepada Tuhan, “Kami ini hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang memang sudah seharusnya kami lakukan.” Kita boleh bersukacita bahwa dalam hidup kita yang sementara, kita boleh dipakai Tuhan menjadi rekan kerja-Nya, menyampaikan berita keselamatan kepada semua orang yang kita jumpai dalam hidup kita.

17. “DIPANGGIL UNTUK MENGINJIL”

 Rasul Paulus ingin menunjukan kepada jemaat Yahudi Kristen bahwa keistimewaan sebagai bangsa pilihan tidak membedakan keselamatan mereka dari keselamatan yang dimiliki oleh bangsa lain yang percaya kepada Yesus Kristus. Kasih karunia yang dinyatakan Allah melalui Yesus Kristus terbuka kepada seluruh Israel, bahkan kepada bangsa lain, yang membedakan adalah respon atau tanggapan terhadap kasih karunia tersebut. Tanggapan yang seharusnya lahir dari kesadaran bahwa kita tidak berdaya menyelamatkan diri, selain hanya karena kasih karunia Allah. 

Kasih karunia Allah tidak bergantung dengan sikap manusia. Tetapi kasih karunia Allah tergantung dengan Allah sendiri. Jadi, meskipun kita sudah mengetahui bahwa kita dipilih untuk menerima kasih karunia dan kita telah memperoleh kasih karunia Allah tersebut, bukan berarti bahwa kita dapat hidup dengan seenaknya saja dan tanpa kontribusi yang baik kepada Tuhan. Justru tanggung jawab kita besar dan harus dikerjakan oleh karena kasih karunia yang telah kita peroleh di dalam Kristus Yesus.  

Dengan menyadari bahwa di tengah kegelapan dunia akan selalu ada sebagian kecil orang yang percaya, maka sepatutnya kita tidak boleh berputus asa, melainkan harus terus bergiat dan setia dalam memberitakan Injil. Israel memang adalah umat pilihan Allah. Akan tetapi, mereka telah menyia-nyiakan Injil sehingga tidak dapat menikmati hak sebagai bangsa pilihan. Bangsa yang seharusnya menerima berkat besar, kini tidak mendapatkan apa pun. Sebaliknya, bangsa lain yang sebenarnya tidak mendapatkan bagian dari berkat itu, sekarang justru sedang menikmatinya. 

Yakinlah bahwa bagaimanapun jahatnya dunia, pasti akan selalu ada orang yang mengaku dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat! “Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiripun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin”. (Roma 11 : 1). “Penyerahan kepada Allah haruslah merupakan hal yang praktis dan dihidupkan; bukan teori untuk dibicarakan, tetapi sebuah prinsip yang berkaiatan dengan pengalaman kita.” Ellen G. White, Our High Calling, hal. 243.

16. “SIAPKAN DIRI”

 Siapa yang Tuhan pakai? Pertama, Tuhan akan memakai orang-orang yang setia. Tuhan sangat memperhatikan orang-orang yang setia mengerjakan perkara-perkara kecil. Contohnya adalah Daud. Sebelum menjadi raja, Daud hanyalah seorang penggembala domba tetapi ia begitu setia mengerjakan tugas itu. Banyak orang maunya langsung memulai perkara-perkara besar tapi tidak suka dan tidak setia mengerjakan perkara-perkara kecil. Justru orang yang telah teruji kesetiaannya dalam mengerjakan perkara-perkara kecil pada saatnya akan dipercaya Tuhan untuk perkara-perkara yang lebih besar (Lukas 16:10). Setialah terhadap perkara apa pun yang dipercayakan Tuhan kepada kita saat ini meski itu perkaraperkara kecil, karena cepat atau lambat Ia akan memberikan upah kepada setiap orang yang setia kepada-Nya.

Kedua, Tuhan memakai orang-orang yang rendah hati yang memberikan segala kemuliaan kepadaNya, yaitu orang yang rela memberikan segenap hidupnya untuk Tuhan tanpa mencari hormat dan pujian dari manusia. Itulah sebabnya mengapa Tuhan memakai orang-orang yang dipandang kurang berarti oleh dunia supaya jangan ada seorang pun yang memegahkan diri di hadapan Tuhan dan manusia, yaitu orang-orang yang mau dibentuk, dibersihkan dan dipotong, karena tidak ada seorang pun bisa langsung siap dipakai Tuhan tanpa melalui proses.  

Rasul Paulus menyadari bahwa keberadaannya sebagai pemberita Injil tak lebih sebagai “…hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.” (1 Korintus 4:1). Sebagai seorang hamba, tugasnya hanyalah taat dan tak punya hak untuk menuntut. Bagi Paulus, dipercaya sebagai pemberita Injil sudah merupakan anugerah yang luar biasa, karena itulah kepercayaan ini tidak pernah disia-siakannya. Setiap kita adalah hamba-hamba Tuhan dan kita pun punya kesempatan untuk dipakai Tuhan seperti Rasul Paulus. “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.” (1 Korintus 1:30).

 

Selasa, 23 Februari 2021

4. “PENGINJILAN SEBAGAI GAYA HIDUP”

 

 Rasul Paulus mengatakan: "celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil." (1 Korintus 9:16). Injil itu tinggal dalam hidup kita, maka penginjilan sebagai gaya hidup adalah bahwa pikiran, sikap, kata-kata, tindakan kita adalah ekspresi dari Injil itu. Kita memberitakan Injil kapanpun, kepada siapapun, dimanapun berada, baik atau tidak baik waktunya, karena Injil adalah hidup dan hidup kita dipengaruhi oleh Injil itu.

Maka kita perlu memiliki cara hidup yang baik dalam katakata, tindakan, dan pikiran/ide-ide. Kesaksian hidup yang baik menjadi daya tarik di tengah dunia pekerjaan yang cenderung berkompromi terhadap dosa. Selain itu, biasanya dalam dunia pekerjaan yang sering menjadi pokok pembicaraan adalah tentang anak, suami, istri, pekerjaan itu sendiri, kedudukan/pangkat, dan materi. Jadilah pendengar yang baik bagi rekan kerja kita yang curhat tentang pokok-pokok itu. Orang senang bila ada yang mau mendengarkan, sehingga bisa menjadi pintu masuk untuk menyampaikan Injil.  

Penting juga untuk memiliki sikap hati yang rela untuk membantu/melayani. Jika kedekatan dan keterbukaan sudah terbangun, maka kita bisa mulai masuk untuk membagikan Injil itu kepada rekan kita. Teknisnya bisa dilakukan dengan menjelaskan Injil melalui ilustrasi jembatan, traktat, menceritakan kesaksian pribadi kita ketika diselamatkan atau kombinasi dari berbagai cara tersebut, kemudian menantang orang untuk percaya pada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya.

Meneguhkan keyakinan keselamatannya. Jika rekan kita mau percaya kita bersyukur, karena kita sudah dilayakkan Allah untuk memberitakan Injil. Jika mereka belum mau percaya atau belum mau meresponi berita Injil itu, maka sikap kita selanjutnya haruslah tetap mengasihi/bersahabat/menolong. Agar penginjilan terus ada dalam hidup kita, maka kita perlu mendoakan dan merencanakan dengan konkrit kepada siapa, dengan cara apa, kapan dilakukan, dimana? Kita harus terus mengingat bahwa: memberitakan Injil adalah suatu kemurahan dan anugerah. 

Senin, 22 Februari 2021

15. “APAKAH KITA MAU?”

 Salah satu panggilan bagi kita sebagai orang yang sudah mengenal dan percaya kepada Kristus, adalah memberitakan Kristus kepada sebanyak mungkin orang. Sehingga semakin banyak pula orang yang mengenal dan percaya kepada Dia. Kita bisa melakukannya sesuai kemampuan dan kesempatan yang kita punya. Seperti John Nicholson dan Samuel Hill, dua orang salesman keliling. Suatu malam di tahun 1989 mereka bertemu di sebuah hotel. Dari perbincangan mereka tebersit suatu gagasan, alangkah baiknya apabila ada Alkitab di dalam kamar hotelnya. Bersama seorang rekan lainnya, W.J. Knight, mereka kemudian membentuk sebuah yayasan untuk menyalurkan Alkitab ke hotel-hotel. Yayasan mereka diberi nama Gideon, salah seorang hakim dalam Kitab Hakim-hakim.

Sekarang, hampir di seluruh hotel di Eropa dan Amerika Serikat, kita bisa menemukan Alkitab dari The Gideons di laci meja kamar hotel. Mereka juga menempatkan Alkitab di rumah-rumah sakit, penjara, dan gedung-gedung asrama. Saat ini, The Gideons telah menyalurkan Alkitab lebih dari satu juta buah per minggu ke mancanegara. Entah sudah berapa banyak orang yang mengenal dan percaya kepada Kristus karena pelayanan mereka ini.

Seperti dalam permainan sepak bola, tidak semua orang mesti jadi pemain. Ada peran-peran lain yang juga penting, seperti pelatih, asisten pelatih, dokter, atau bahkan tukang urut. Begitu juga dalam memberitakan Kristus. Kita bisa berpartisipasi dan berkontribusi dalam peran dan kapasitas kita masing-masing. Dengan modal ‘kemauan’ yang didasari oleh kasih Kristus, maka kita perlu memaksimalkan peran kita dalam membawa kabar baik itu dimanapun kita berada. “Seperti ada tertulis: Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Roma 10 : 15b). 

14. “SAKSI TUHAN”

 Paulus dan kawan-kawannya dalam pelayanan mereka mendapat respon positif dari penduduk di kota itu sehingga mereka mengundang Paulus kembali untuk memberikan pengajaran injil. Paulus berkeyakinan bahwa ia telah ditetapkan Tuhan untuk mengabarkan injil keselamatan kepada orang-orang yang tidak mengenal Allah sampai ke ujung bumi. Walaupun banyak pertentangan tapi Tuhan menyertai pelayanan Paulus hingga banyak jiwa diselamatkan dan menjadi percaya kepada Tuhan melalui pelayanannya. 

Kita bisa menjadi orang percaya semata-mata karena Tuhan menentukan kita untuk hidup yang kekal. Berita keselamatan terlalu “mencengangkan” dan “tidak akan dipercayai” oleh kita tanpa anugrah Tuhan. Betapa berharganya berita ini! Itu sebabnya, Rasul Paulus, dengan berani dan tak kenal lelah, terus memberitakan berita kasih karunia itu. Ini bukan tentang kehebatan kita menjadi saksi Tuhan, tetapi apakah kita bersedia dipakai dalam pelayananNya. Apabila kita tidak bersedia pun, Tuhan punya banyak cara untuk memanggil orang untuk datang dan percaya kepada Tuhan. Tuhan bisa menggerakkan hati seseorang tanpa perantaraan manusia sekalipun.  

Namun apabila kita bersedia menjadi saksi Tuhan dan membawa keslamatan pada orang yang belum percaya maka Tuhan akan menyertai pelayanan kita sebagaimana Paulus mendapat penyertaan Tuhan dalam pelayanannya. “Kita tidak ditempatkan di dunia ini hanya untuk merawat diri kita sendiri, tetapi dituntut untuk membantu pekerjaan besar sehubungan dengan keselamatan manusia, dengan demikian meniru penyangkalan diri, pengorbanan diri dan kehidupan Kristus yang sangat berguna.” Ellen G. White, Testimonies for the Church, Jilid 1, hal. 325.

13. “KESAKSIAN-KESAKSIAN KEGIATAN PENGINJILAN SEPANJANG TRIWULAN”

 Orang Kristen yang mengasihi TUHAN dan berhasrat untuk menginjil harus mengawali pelayanannya dengan memperhatikan tanggung jawabnya untuk hadir di tengah masyarakat. Orang Kristen harus dengan sengaja hadir sebagai garam dan terang, dengan kehidupan moral, serta sosial yang baik sehingga ia dapat diterima. Hiduplah sebagai orang Kristen yang “saleh”, sehingga ia diterima baik oleh orang disekitarnya. Hal ini harus dilakukan dengan penuh kesadaran dimanapun kita berada. 

Setiap orang Kristen yang telah mengupayakan langkah di atas, harus memastikan bahwa ia telah “membangun hubungan baik” dengan setiap orang sehingga ia diterima dan diakui sebagai warga masyarakat. Setelah orang Kristen memastikan bahwa ia telah diterima dan diakui, maka ia harus senantiasa mencari jalan yang mengarah kepada upaya memberitakan Injil Tuhan Yesus Kristus. Pemberita Injil yang ingin berhasil dituntut memainkan peranan sebagai seorang pemusik. Sebagai seorang pemusik, kita harus mau mendengarkan secara lebih hati-hati serta menemukan nada-nada sumbang yang dinyanyikan orang kepada kita.

Percakapan yang baik dimulai dari mendengarkan dengan baik. Sebelum Anda menjelaskan Injil kepada mereka, ada baiknya (sangat disarankan) Anda terlebih dulu menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Tingkatkan ketrampilan mendengar Anda  dengan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk memunculkan sendiri apa yang ada di hati dan pikiran mereka, daripada kita yang mengungkap dan menyatakannya.

12. ”MEMENANGKAN JIWA”

 Doa syafaat adalah cara yang memimpin anda pada pemenangan jiwa-jiwa. Tak ada sebuah gereja pun dapat berkembang tanpa adanya doa syafaat. Tak ada orang Kristen yang dapat bertumbuh tanpa adanya doa syafaat (Yesaya 66:8). Yesus telah menderita sakit melahirkan dan berdoa syafaat untuk saya. "Ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena Ia terhitung di anatara pemberontak-pemberontak, sekalipun Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontakpemberontak" (Yesaya 53:12). Anda mulai memperhatikan seseorang secara rohani apabila anda mulai berdoa untuk dia. "Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita" (Filipi 1:4). "Setiap kali kami berdoa untuk kamu" (Kolose 1:3).

Rahasia dari perkataan Andreas,"...kami telah menemukan" adalah pencarian seseorang akan kepuasan yang telah dipenuhi di dalam pengenalan dengan Yesus Kristus. Penginjilan secara pribadi adalah membagi suatu penemuan. "Dan ia membawanya kepada Yesus" (Yohanes 1:42). Berikanlah kesaksianmu bagi Kristus.  Ceritakanlah pada yang lain apa yang dilakukan Allah untuk anda. "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan" (Roma 10:9- 10; Matius 10:32-33).

Doa adalah fondasi di mana semua strategi penginjilan harus dibangun. Dengan memusatkan strategi pada doa, strategi gereja terhubung dengan sumber Roh Kudus. Pertemuan doa rutin semestinya saya lakukan dan terutama berfokus untuk menjangkau orang-orang kafir di komunitas Anda. Atur semua doa malam di mana Anda menghadapi roh-roh teritorial di daerah tersebut. Charles Finney, penginjil Amerika sangat tertarik pada pertemuan doa yang berfokus pada orang-orang yang tidak percaya, Finney, menghabiskan waktu sekitar satu tahun untuk berdoa di sebuah kota sebelum pertemuannya, David Yongi Choi menghabiskan satu tahun berdoa di gunung sebelum gerejanya meledak. 

11. “KESAKSIAN-KESAKSIAN”

 Penginjilan merupakan tugas gereja yang diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus untuk dilakukan secara serius dan sungguhsungguh. Penginjilan dilakukan sebagai upaya memberitakan kabar baik tentang pengampunan dosa yang ada di dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus pra kenaikan-Nya ke sorga memberi perintah yang jelas dan tegas kepada para murid terkait dengan pemberitaan Injil yaitu: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” – Matius 28:19. Jadi, dalam perspektif Kristen pemberitaan Injil itu sangat penting karena tanpa Injil manusia pasti binasa.

Tentu semua gereja mengharapkan dan menghendaki agar penginjilan yang dilakukannya berhasil yang ditandai dengan adanya jiwa-jiwa yang diselamatkan oleh Tuhan Yesus melalui pelayanan gereja. Namun, penginjilan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu, supaya pemberitaan Injil berhasil, maka gereja harus mengetahui prinsip-prinsip utama di dalam melaksanakan pemberitaan Injil. Prinsip-prinsip ini sangat penting untuk diketahui dan dipegang oleh setiap orang percaya ketika akan melaksanakan pemberitaan Injil. Prinsipprinsip ini menjadi pedoman supaya pemberitaan Injil terlaksana dengan baik dan berdampak positif terhadap pertumbuhan gereja.

Sabat ini adalah hari Tamu, berilah kesempatan kepada para tamu untuk memberikan kesaksian, apalagi dari tamu yang  sudah hadir di Care Groups/Kelompok Peduli Advent (KPA), dan kesaksian lain dari mereka yang baru dibabtis. Yaitu satu kesaksian bagaimana mereka bisa sampai datang berbakti bersama-sama memuliakan Tuhan. Mintalah anggota jemaat yang membawa atau yang mengundang para tamu itu untuk mendampingi mereka. Usahakanlah menyediakanlah sebuah cindera mata atau kenangkenangan sebagai penghargaan bagi tamu hadir itu.

10. “TELADAN PENGINJILAN”

 Terhadap panggilan Yesus "Ikutilah Aku!", Matius segera bangun dan mengikuti Yesus. Ia meninggalkan seluruh hartanya yang banyak itu, dan dengan rela memulai suatu hidup yang baru bersama Yesus dan murid-murid lainnya. Sikap tegas Matius menunjukkan bahwa ia memiliki sifat-sifat Kerajaan Allah: semangat kemiskinan dan pelayanan, terutama cinta dan imankepercayaan akan Yesus. 

Matius, seorang terpelajar. Ia dapat berbicara dan menulis dalam bahasa Yunani dan Aramik, suatu dialek bahasa Ibrani. Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui, baik sebelum maupun sesudah dipanggil Yesus. Menurut tradisi lisan purba, setelah Yesus naik ke surga, Matius mewartakan Injil dan berkarya di tengah kaum sebangsanya: orang-orang Kristen keturunan Yahudi di Palestina atau Siria selama kira-kira 15 tahun. Selama itulah ia menulis Injilnya yang berisi pengajaran agama dan kesaksian tentang Yesus kepada orang-orang Kristen keturunan Yahudi. Injilnya ditulis kira-kira antara tahun 50-65 M

Dalam Injilnya, Matius menegaskan bahwa Yesus dari Nazareth itu adalah benar-benar Mesias yang dijanjikan Allah dan dinubuatkan para nabi dalam masa Perjanjian Lama: la membuka Injilnya dengan membeberkan silsilah Yesus Kristus mulai dari Abraham sampai Maria yang melahirkan Yesus. Dengan silsilah itu,  ia mau menunjukkan dengan tegas kemanusiaan Yesus dan kedudukanNya sebagai Penyelamat yang dijanjikan Allah. Itulah sebabnya, Injil Matius dilambangkan dengan 'manusia bersayap'.Setelah menuliskan Injilnya, Mateus pergi ke arah timur: ke Masedonia, Mesir, Etiopia dan Persia. Konon ia mati sebagai martir di Persia karena mewartakan Injil tentang Yesus Kristus.

9. “KABAR BAIK”

 Kata dasar Injil adalah kabar baik. Injil adalah kabar baik atau kabar sukacita. Ini bukanlah ancaman, jika tidak percaya diancam masuk neraka. Justru beritakanlah dengan sukacita, bahwa kita tidak perlu melakukan apapun untuk bisa diselamatkan, itu pemberian. Tidak perlu harus potong korban dulu, tidak perlu pelayanan dulu. Dengan menerima Yesus, kita layak hidup sebagai anggota kerajaan Allah. Dalam Lukas 10:8 dijelaskan Kerajaan Allah sudah dekat dan hal ini bicara tentang pemerintahan Allah. Bagi orang yang tidak taat, memang nampaknya mengerikan, karena tidak mentaati berarti dihukum. Sebaliknya, bagi yang melakukan, pemerintahan Allah bicara tentang kelimpahan, bagian-bagian yang seharusnya menjadi milik kita, kita dapat terima. Mari kita ubah pola pikir kita. Injil bukanlah ancaman, tapi berita sukacita. Wajah kita pun dengan bersukacita.

Banyak cara untuk memulai penginjilan. Tidak selalu harus dengan kalimat nanti mati masuk mana. Lihat pola yang Yesus ajarkan, pekabaran injil diikuti dengan doa kesembuhan. Dalam Roma 10:13-15, Firman Tuhan katakan di ayat 15, betapa indahnya orang yang membawa kabar baik. Tidak perlu takut. Kita takut menginjili, bisa jadi karena pengalaman ditolak. Ditolak itu mendewasakan kita, supaya kita banyak belajar dan berubah dalam Tuhan. Penting sekali untuk mempercayakan hidup kita pada Tuhan.

Pastikan kita mendengar baik-baik, kemana Tuhan mengutus kita pergi. Biar tergenapi Firman yng berkata, raja-raja akan datang untuk belajar pada kita.Persiapkan diri kita untuk menjadi orang besar, karena Roh yang ada dalam kita lebih besar daripada rh yang ada di dunia. Dalam Roma 1:16-17, dijelaskan Injil punya kuasa untuk menyelamatkan orang dari kebinasaan. Berjalanlah dengan tegak. Karena berita yang kita sampaikan punya kuasa. Kekuatan injil ini berlaku buat semua orang dari latar belakang apapun. Tidak perlu khawatir dan takut lagi

Dalam 1 Tesalonika 1:5-6 di jelaskan bahwa, Injil memiliki kepastian dan kokoh. Janganlah ragu-ragu memberitakan injil. Seorang sales yang menjual produknya dengan ragu-ragu, sama halnya sales itu tidak percaya dengan produk yang dijualnya. Petrus memberitakan injil dengan penuh keyakinan dan keteguhan hati sehingga 3000 orang memberi diri untuk bertobat. Marilah kita mengabarkan injil, bukan karena keharusan, tapi karena hati yang berkobar-kobar untuk memberitakan injil.

8. “PENGINJILAN DAN PERTUMBUHAN IMAN”

 Ada sebuah alasan bagi pertumbuhan dari sebuah gereja yang besar. Alasan tersebut adalah penginjilan; penginjilan di atas mimbar, penginjilan dalam Sekolah Sabat, penginjilan di dalam kita, di dalam Negara. Penginjilan, merupakan jiwa dan semangat dari setiap organisasi dan usaha gereja. Ketika gereja memiliki penginjilan, mereka telah bertumbuh. Ketika mereka gagal untuk memenangkan jiwa-jiwa, mereka telah tidak dapat menghindari kematian dan sekarat. Dalam sebuah kesempatan dalam kunjungan terakhir Dr. Rushbrooke ke Amerika, saya bertanya mengapa denominasinya di salah satu negara yang terbesar di dunia mati secara perlahan-lahan. Dia menjawab, “Hal itu disebabkan oleh karena mereka telah kehilangan semangat penginjilan.” Sebagaimana nafas bagi tubuh manusia, sama seperti penginjilan bagi gereja. Sebagimana warna dan keharuman bagi bunga, sebagaimana air bagi laut, sebagaimana tenaga bagi mesin, seperti itulah penginjilan bagi gereja. 

Gereja-gereja yang lain mungkin hidup berdasarkan aliansi politik mereka dan menjadi kuat karena dukungan dari institusi Negara yang mendukung mereka, tetapi gereja-gereja yang independen, termasuk yang tidak diakui, harus selalu mengingat bahwa penginjilanlah yang membuat kita dan penginjilan itu sendiri yang dapat menjamin kita. Akan ada sebuah penghakiman dari Allah terhadap kita jika kita gagal terhadap hal yang paling vital ini. “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya jika engkau tidak bertobat…. Siapa yang bertelinga hendaklah ia mendengar apa yang dikatakan roh kepada jemaat-jemaat.” (Wahyu 2:5,7).

Minggu, 21 Februari 2021

7. “TUHAN MEMANGGIL KITA”

 Penginjilan adalah suatu pekerjaan sedunia untuk semua orang Kristen. Ada dalam Alkitab, ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:19-20).

Menyampaikan Yesus Kristus seharusnya menjadi suatu cara hidup. Ada dalam Alkitab,”Jadi ke mana saja kami pergi kami berbicara tentang Kristus kepada semua orang yang akan mendengar, sambil mengamarkan mereka dan mengajarkan mereka sesuai apa yang kami ketahui. Kami ingin mampu mempersembahkan setiap orang kepada Allah, sempurna karena pekerjaan yang telah Kristus perbuat untuk masing-masing mereka. Ini adalah pekerjaan saya, dan saya dapat melakukannya hanya karena tenaga ajaib dari Kristus yang bekerja di dalam aku” (Kolose 1:25-27). “  

Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan” (Kolose 1:26-29). 

Kita dipanggil untuk menjadi wakil-wakil Yesus. Ada dalam Alkitab,”Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2 Korintus 5:20). Penginjilan adalah berbicara untuk Tuhan, tetapi juga menjadi teladan dalam kebenaran. Ada dalam Alkitab,” Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15). ”Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yohanes 13:35).

Penginjilan itu lebih daripada sekedar berkhotbah dan bersaksi. Ada dalam Alkitab, 61:1 Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orangorang yang terkurung kelepasan dari penjara” (Yesaya 61:1). 

6. ”KEPEKAAN HATI”

 Dalam 2 Raja-raja 5 : 1-25 Naaman, seorang pahlawan, panglima perang kerajaan Aram yang kena penyakit kusta. TUHAN, Allah Israel akhirnya memberi kesembuhan bagi Naaman. TUHAN memakai banyak orang untuk memberikan kesembuhan itu, seperti: seorang anak perempuan tawanan yang menjadi pelayan di rumah Naaman, isteri Naaman, Raja Aram, Raja Israel, Elisa, Gehazi (Pembantu Elisa) dan pegawai-pegawai Naaman. Tuhan bisa bekerja melalui siapa saja dalam memberitakan Injil atau kasih Allah kepada orang-orang yang sedang dalam kesulitan hidup: Penyakit, Perceraian, Ekonomi dan sebagainya.

Sekalipun kedudukan Raja Aram tinggi namun ia masih memperhatikan permasalahan orang-orang yang ada dibawahnya. Ini merupakan tipe pemimpin yang bijaksana yang tidak hanya mementingkan kepentingannya sendiri, bisa saja Raja Aram mengangkat orang lain menjadi panglimanya untuk menggantikan Naaman namun hal ini tidak dilakukannya.  

Setelah Raja Aram bersurat kepada Raja Israel untuk menolong Naaman dan membaca surat yang dikirim, maka Raja Israel mengoyakkan pakaiannya untuk membuktikan bahwa dia tidak layak untuk menyembuhkan Naaman dari penyakit yang sedang dideritanya, dan Raja Israel menyadari bahwa hanya TUHAN saja yang dapat mengangkat penyakit ini. Raja Israel mengakui bahwa kekuasaan TUHAN mutlak dan tidak dapat disamakan dengan kekuasaannya sebagai raja. Pada awalnya, Naaman tidak percaya Tuhan Allah berkuasa memulihkan hidupnya hanya dengan cara mandi di sungai Yordan, sekarang Naaman mengerti bahwa Tuhan Allah mampu memulihkan hidupnya dengan cara yang menurutnya tidak masuk akal, dan Naaman bersaksi: “sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.” Terpujilah Tuhan.

Melalui kisah ini kita ddapat mengetahui bahwa sesungguhnya: Pertama, Tuhan dapat memakai siapa-pun tanpa memandang kedudukan atau profesi baik yang rendah maupun yang tinggi, dan profesi kita tidak menjadi penghalang untuk melayani dalam PEMBERITAAN INJIL, dan melalui profesi kita, TUHAN membuka jalan untuk membawa orang lain percaya kepadaNya. Kedua, Pahlawan bagi Allah adalah pribadi-pribadi yang mau memberitakan nama-NYA melalui kehidupan kita, dimanapun dan kapanpun kita berada.  

Sudahkah kita peka terhadap orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan perhatian, pertolongan, kepastian dalam keselamatan hidup melalui pemberitaan Injil Kristus karena mereka adalah orang-orang yang juga butuh diselamatkan seperti kita yang sudah diselamatkan karena percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat Yang Hidup.

Sabtu, 20 Februari 2021

3. “MENUNTUN ORANG KE DALAM KEBENARAN”

 

 "Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya." Daniel 12:3 

Berbicara tentang Daniel erat hubungannya dengan kesetiaan, ketekunan dan integritas. Di tengah situasi sulit Daniel muncul sebagai orang muda yang bercahaya seperti bintang yang memancarkan sinarnya di tengah kegelapan malam. Itulah sebabnya kitab Daniel ditutup dengan begitu indahnya, di mana pada saat yang tepat orang-orang benar akan beroleh kemenangan. Proses mencapai kemenangan tidak mudah, harus melewati ujian yang begitu berat sebagaimana halnya Daniel yang tidak sertamerta menjadi orang istimewa ('bercahaya') di antara orang-orang sezamannya. "...pada orang itu terdapat roh yang luar biasa dan pengetahuan dan akal budi, sehingga dapat menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan, yakni pada Daniel yang dinamai Beltsazar oleh raja." (Daniel 5:12a). Tapi ada harga yang yang harus dibayar! Daniel telah melewati ujian demi ujian sehingga pada akhirnya Daniel dapat berkata bahwa orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cakrawala! 

Orang yang bijaksana atau berhikmat dalam Perjanjian Lama dikaitkan dengan hati yang takut akan Tuhan, karena "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10). Jadi orang bijaksana adalah orang yang takut akan Tuhan, tidak hanya di dalam pikiran tapi juga di dalam hati dan perbuatannya. Orang-orang benar inilah yangg dapat menjadi saksi dan menuntun orang lain kepada kebenaran. Tugas dan tanggung jawab ini ada di pundak kita, sebagaimana yang Yesus perintahkan sebelum Ia terangkat ke sorga, "...pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." (Matius 28:19-20a). Sudahkan kita memenuhi kriteria sebagai orang-orang bijaksana yang layak menuntun orang lain kepada kebenaran?

2. “MENJADI GARAM DUNIA”


 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang." Matius 5:13 

Seringkali kita tidak menyadari bahwa sebagai seorang umat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, kehidupan kita selalu menjadi sorotan orang-orang di luar Tuhan. Rasul Paulus mengatakan, "Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang." (2 Korintus 3:2). Kita ini adalah surat yang terbuka, yang dapat dibaca dan dilihat oleh semua orang. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dalam menjaga sikap dan perilaku hidup kita sehari-hari. Jangan sampai kita menjadi batu sandungan bagi mereka atau menjadi buah mulut negatif sehingga nama Tuhan tercoreng karena perbuatan kita. 

Dalam Perjanjian Lama garam sudah menjadi bagian dari korban sajian yang dipersembahkan oleh umat kepada Tuhan: "Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam." (Imamat 2:13). Mengapa setiap korban sajian perlu dibubuhi garam? Garam perlu ditambahkan di setiap sajian supaya menghasilkan bau yang harum dan sedap, dan kita tahu bahwa persembahan yang harum itu menyenangkan hati Tuhan: "...kepada persembahan yang harum Aku berkenan kepadamu..." (Yehezkiel 20:41). 

Tuhan menghendaki agar kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepadaNya. Kita adalah garam bagi dunia ini. Namun perhatikanlah, garam akan bernilai guna jika ia berada pada keadaan aslinya yaitu asin. Tetapi jika garam itu sudah menjadi tawar, ia tidak akan berguna lagi. “Apabila kasih memenuhi hati, itu akan mengalir kepada orang-orang lain, bukan karena kebaikan hati yang diterima dari mereka, tetapi karena kasih adalah prinsip perbuatan. Kasih mengubah tabiat, menguasai gerakan hati, menaklukkan musuh, dan memuliakan kasih sayang. Kasih ini seluas alam semesta, dan selaras dengan para malaikat pekerja. Dihargai dalam hati, itu mempermanis seluruh kehidupan, dan mencurahkan berikutnya kepada sekelilingnya. Ini dan hanya inilah, yang dapat membuat kita garam dunia.” EG. White, Kotbah Di Atas Bukit, hal. 48.

Hidup yang berkenan kepada Tuhan adalah seperti korban sajian yang dibubuhi garam, suatu kehidupan yang berdampak dan menjadi berkat bagi orang lain. Oleh karena itu jangan pernah main-main dengan Kekristenan kita.

1. “BERSAKSI DAN MENJADI KESAKSIAN”

  "Marilah, dengarlah, hai kamu sekalian yang takut akan Allah, aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadap diriku." Mazmur 66:16. 

Apa yang sudah Tuhan perbuat dalam hidup Saudara? Disembuhkan dari sakit, dilepaskan dari masalah yang menghimpit, beroleh jalan keluar ketika menghadapi jalan buntu? Ada banyak orang Kristen yang sudah menjalankan tugasnya dalam hal bersaksi. Tapi, tidak sedikit pula yang enggan melangkahkan kakinya untuk bersaksi, baik itu kepada keluarga terdekat, tetangga di sekitar tempat tinggal, teman-teman di kantor, terlebih lagi kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan dengan alasan kurang fasih bicara, malu atau canggung. 

Alkitab mengingatkan kita: "Kamu inilah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan hamba-Ku yang telah Kupilih," (Yesaya 43:10). Bagaimana kita harus memulai bersaksi kepada orang lain? Cara yang paling efektif untuk bersaksi kepada orang lain adalah melalui perbuatan kita sendiri. Oleh karena itu "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12b). Ketika kita menjadi teladan bagi orang lain, baik itu melalui perkataan dan perbuatan, saat itu pula kita sedang bersaksi, sehingga melalui hidup kita nama Tuhan dipermuliakan. 

Jangan pernah takut untuk bersaksi, karena di dalam kita ada Roh kudus. "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita," (2 Timotius 1:7-8). Inilah yang membangkitkan semangat Petrus dan Yohanes untuk bersaksi. Meski dihadapkan ke Mahkamah Agama dan nyawanya terancam, mereka tidak gentar sedikit pun dan dengan tegas berkata, "Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." (Kisah 4:20). Jadikan bersaksi sebagai gaya hidup kita setiap hari.

Guru-guru yang Pertama

[Mendidik dan Membimbing Anak (Pasal 2. Halaman 20-22)]

 Orang Tua harus Mengerti Tanggung Jawab Mereka

Para bapa dan ibu perlu memahami tanggung jawab mereka. Dunia ini penuh dengan jerat bagi kaki orang-orang muda. Banyak orang tertarik oleh satu kehidupan yang mementingkan diri dan kepelesiran yang penuh hawa nafsu. Mereka tidak dapat melihat adanya bahaya-bahaya yang tersembunyi ataupun akhir yang menakutkan daripada jalan yang kelihatannya kepada mereka seperti jalan kebahagiaan.

Lebih daripada hikmat manusia dibutuhkan oleh orang tua pada setiap langkah, agar mereka dapat mengerti bagaimana mendidik anak-anak mereka dengan sebaik-baiknya untuk kehidupan yang berguna dan berbahagia sekarang ini, dan untuk pelayanan yang lebih tinggi dan kebahagiaan yang lebih besar di akhirat nanti.

Pendidikan Anak adalah Satu Bagian yang Penting dalam Rencana Allah

Satu tanggung jawab yang khidmat terletak diatas bahu para orang tua untuk mendidik anak-anak mereka demikian rupa sehingga bilamana mereka terjun ke dalam dunia ini, mereka akan berbuat yang baik dan bukan yang jahat kepada orang-orang yang bergaul dengan mereka.

Mereka harus menjadikannya sebagai tujuan yang utama untuk memahami cara untuk memperlakuan anak-anak mereka dengan sepatutnya, agar mereka dapat mengembangkan suatu pikiran yang sehat di dalam tubuh yang sehat.

Kerja sama dengan Allah Perlu

Kristus tidak meminta kepada Bapa agar memindahkan murid-muridNya dari dalam dunia ini, melainkan untuk memeliharakan mereka dari kejahatan yang ada di dalam dunia ini, untuk memeliharakan mereka agar jangan menyerah kepada penggodaan yang akan mereka hadapi dari segala penjuru. Doa seperti ini harus diucapkan oleh para bapa dan ibu bagi anak-anak mereka.

Allah tidak dapat menjaga anak-anak dari kejahatan jikalau orang tua tidak bekerja sama dengan Dia. Dengan penuh keberanian dan kesukaan orang tua harus melakukan tugas mereka, dan terus melaksanakannya dengan usaha yang tidak mengenal lelah.

Bagaimana Sepasang Suami-Istri Memenuhi Tanggung Jawab Mereka

Sebagai orang tua mereka harus dengan setia bekerja sama dengan Allah dalam membentuk satu tabiat di dalam diri Yohanes sehingga akan menjadikan dia layak untuk melaksanakan bagian yang telah ditetapkan Allah baginya sebagai seorang pekerja yang sanggup.

Tetapi orang tua itu tidaklah berpikir demikian, mereka pindah ke satu tempat yang terpencil di negeri itu, dimana anak mereka tidak akan terbuka kepada penggodaan-penggodaan yang ada di dalam kota besar, atau terpengaruh untuk menyimpang dari nasihat dan petunjuk yang mereka berikan kepadanya sebagai orang tua.


HIDUP SEHAT

 Hidup Sehat Adalah 10 Hukum Kesehatan


Setiap orang bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri, oleh sebab itu tujuan PROGRAM yang dilaksanakan adalah untuk menolong masyarakat yang sehat maupun yang sakit agar dapat MEMILIH POLA HIDUP SEHAT, sebagai pola hidup seumur hidupnya. WHO mengatakan bahwa pada tahun 2020, 70% dari kematian manusia di dunia ini disebabkan karena penyakit akibat POLA HIDUP TIDAK SEHAT seperti, jantung, hipertensi, stroke, diabetes, kanker, dll. Program-program yang dilaksanakan adalah dalam rangka mendukung himbauan presiden RI yaitu “Mewujudkan Indonesia Sehat” dengan GERMAS yaitu Gerakan Masyrakat Hidup Sehat, Indonesia Kuat. Selain itu, program-program LIFESTYLE CENTER RUMAH SAKIT ADVENT BANDUNG dirancang sesuai dengan komitmen kami yaitu “Kami Peduli TUHAN Menyembuhkan”, untuk mencapai kesehatan seutuhnya baik fisik, mental, dan kerohanian dan berbasis prinsip scientific. Program-program ini dilaksanakan dengan cara memberi pendidikan kepada karyawan, pasien, dan keluarga juga kepada seluruh masyarakat.


Anda akan didukung oleh tim yang berkualitas. Tim kami terdiri dari dokter-dokter spesialis, magister kesehatan masyarakat, pendidik kesehatan, perawat, fisikal therapist, ahli gizi, instruktur memasak, pembimbing kerohanian dan psikologist.

Berikut adalah daftar Hidup Sehat
  • Hati yang Gembira
  • Istirahat yang Cukup
  • Diet yang Seimbang
  • Udara yang Bersih
  • Pengendalian Diri
  • Sinar Matahari yang Cukup
  • Enerjik Berolahraga
  • Hubungan Sosial yang Baik
  • Air Jernih yang Cukup
  • Tuhan yang Terutama
Sumber : Website RSA Bandung

5. HAMBA TANPA NAMA

            Ia seorang kepala bagian rumah tangga di gereja. Setiap hari Jumat dan Sabtu, ia bertugas menjaga agar semua peralatan e...