Sabtu, 20 Februari 2021

2. “MENJADI GARAM DUNIA”


 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang." Matius 5:13 

Seringkali kita tidak menyadari bahwa sebagai seorang umat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, kehidupan kita selalu menjadi sorotan orang-orang di luar Tuhan. Rasul Paulus mengatakan, "Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang." (2 Korintus 3:2). Kita ini adalah surat yang terbuka, yang dapat dibaca dan dilihat oleh semua orang. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dalam menjaga sikap dan perilaku hidup kita sehari-hari. Jangan sampai kita menjadi batu sandungan bagi mereka atau menjadi buah mulut negatif sehingga nama Tuhan tercoreng karena perbuatan kita. 

Dalam Perjanjian Lama garam sudah menjadi bagian dari korban sajian yang dipersembahkan oleh umat kepada Tuhan: "Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam." (Imamat 2:13). Mengapa setiap korban sajian perlu dibubuhi garam? Garam perlu ditambahkan di setiap sajian supaya menghasilkan bau yang harum dan sedap, dan kita tahu bahwa persembahan yang harum itu menyenangkan hati Tuhan: "...kepada persembahan yang harum Aku berkenan kepadamu..." (Yehezkiel 20:41). 

Tuhan menghendaki agar kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepadaNya. Kita adalah garam bagi dunia ini. Namun perhatikanlah, garam akan bernilai guna jika ia berada pada keadaan aslinya yaitu asin. Tetapi jika garam itu sudah menjadi tawar, ia tidak akan berguna lagi. “Apabila kasih memenuhi hati, itu akan mengalir kepada orang-orang lain, bukan karena kebaikan hati yang diterima dari mereka, tetapi karena kasih adalah prinsip perbuatan. Kasih mengubah tabiat, menguasai gerakan hati, menaklukkan musuh, dan memuliakan kasih sayang. Kasih ini seluas alam semesta, dan selaras dengan para malaikat pekerja. Dihargai dalam hati, itu mempermanis seluruh kehidupan, dan mencurahkan berikutnya kepada sekelilingnya. Ini dan hanya inilah, yang dapat membuat kita garam dunia.” EG. White, Kotbah Di Atas Bukit, hal. 48.

Hidup yang berkenan kepada Tuhan adalah seperti korban sajian yang dibubuhi garam, suatu kehidupan yang berdampak dan menjadi berkat bagi orang lain. Oleh karena itu jangan pernah main-main dengan Kekristenan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

5. HAMBA TANPA NAMA

            Ia seorang kepala bagian rumah tangga di gereja. Setiap hari Jumat dan Sabtu, ia bertugas menjaga agar semua peralatan e...