Rasul Paulus mengatakan: "celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil." (1 Korintus 9:16). Injil itu tinggal dalam hidup kita, maka penginjilan sebagai gaya hidup adalah bahwa pikiran, sikap, kata-kata, tindakan kita adalah ekspresi dari Injil itu. Kita memberitakan Injil kapanpun, kepada siapapun, dimanapun berada, baik atau tidak baik waktunya, karena Injil adalah hidup dan hidup kita dipengaruhi oleh Injil itu.
Maka kita perlu memiliki cara hidup yang baik dalam katakata, tindakan, dan pikiran/ide-ide. Kesaksian hidup yang baik menjadi daya tarik di tengah dunia pekerjaan yang cenderung berkompromi terhadap dosa. Selain itu, biasanya dalam dunia pekerjaan yang sering menjadi pokok pembicaraan adalah tentang anak, suami, istri, pekerjaan itu sendiri, kedudukan/pangkat, dan materi. Jadilah pendengar yang baik bagi rekan kerja kita yang curhat tentang pokok-pokok itu. Orang senang bila ada yang mau mendengarkan, sehingga bisa menjadi pintu masuk untuk menyampaikan Injil.
Penting juga untuk memiliki sikap hati yang rela untuk membantu/melayani. Jika kedekatan dan keterbukaan sudah terbangun, maka kita bisa mulai masuk untuk membagikan Injil itu kepada rekan kita. Teknisnya bisa dilakukan dengan menjelaskan Injil melalui ilustrasi jembatan, traktat, menceritakan kesaksian pribadi kita ketika diselamatkan atau kombinasi dari berbagai cara tersebut, kemudian menantang orang untuk percaya pada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya.
Meneguhkan keyakinan keselamatannya. Jika rekan kita
mau percaya kita bersyukur, karena kita sudah dilayakkan Allah
untuk memberitakan Injil. Jika mereka belum mau percaya atau
belum mau meresponi berita Injil itu, maka sikap kita selanjutnya
haruslah tetap mengasihi/bersahabat/menolong. Agar penginjilan
terus ada dalam hidup kita, maka kita perlu mendoakan dan
merencanakan dengan konkrit kepada siapa, dengan cara apa,
kapan dilakukan, dimana? Kita harus terus mengingat bahwa:
memberitakan Injil adalah suatu kemurahan dan anugerah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar