Lalu bapak yang lain menyatakan, oh itu anakku yang sedang berada dalam bak pasir itu, anak-anak ini sangat menikmati permainan mereka masing-masing.
Kira-kira sepuluh menit kemudian bapak yang memiliki anak laki-laki itu memanggil anaknya agar mereka segera kembali ke rumah karena hari sudah semakin sore, kemudian anak ini datang dan memohon kepada ayahnya sambil berkata: “ayah bolehkah saya bermain lima menit lagi?” kemudian si ayah berkata: ok lima menit ya?
Setelah lima menit anak itu bermain, si ayah memanggil sekali dan mengatakan ayo kita pulang sebab lima menit tambahan sudah selesai, namun sia anak berkata “ayah lima menit lagi” kemudian si ayah kelihatannya mengijinkan anaknya bermain lagi lima menit. Ayah anak perempuan itu mendekati bapak yang memiliki anak laki-laki itu dan berkata: “ternyata anda adalah seorang bapak yang sabar”.
Bapak-ibu, saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan ternyata kita memiliki seorang bapak yang lebih sabar dari semua bapak duniawi yang kita kenal. Betapa tidak, ketika Tuhan Yesus memanggil kita untuk menginjil saat kita masih muda, kita menjawab Tuhan saya masih terlalu muda.
Tuhan bersabar menunggu kita, kemudian Ia memberikan pekerjaan yang baik dengan penghasilan yang lebih dari cukup, Ia memanggil lagi anak-Ku siapakah yang akan pergi untuk menjadi saksiKu, sekali lagi kita menjawab Tuhan aku terlalu sibuk, aku pergi kerja saat matahari belum merekah dan saya kembali kerumah setelah matahari terbenam, aku capek Tuhan, jika aku pensiun nanti aku akan menginjil untuk Tuhan.
Tuhan Kembali bersabar menunggu, setelah kita memasuki masa pensiun Tuhan Yesus datang lagi dan berkata: anak-Ku bukankah engkau sudah pensiun? Kita menjawab: benar Tuhan saya sudah pensiun, lalu Tuhan mengingatkan, masihkah engkau ingat janjimu untuk menginjil jika engkau sudah pensiun? Lalu kita menjawab: Tuhan saya ingat! Tetapi sekarang saya sudah hidup dengan uang pensiun yang paspasan, pinggang juga sering sakit-sakitan, ada juga rematik, gula darah tidak bisa dikontrol, sehingga saya sangat menderita Tuhan.
Jika Tuhan berkenan sembuhkanlah hamba-Mu ini, setelah saya sembuh saya akan menginjil untuk Tuhan. Bapak. Ibu, saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan kita Yesus Kristus, pertanyaannya adalah: sampai kapan kita mau membuat alasan untuk tidak menginjil? Sampai kapan kita terus bersandiwara? Seperti tuhan memanggil Yesaya. Siapakah yang mau pergi
untuk aku? Mari kita menjawab bersama Yesaya : ini aku utuslah aku, kiranya Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.