Selasa, 13 Juli 2021

43. “GEREJA DALAM PENGINJILAN”

 Suatu ketika sebuah gereja di sebuah kota meminta untuk seseo-rang selama setahun untuk memimpin kunjungan perlawatan  dan penginjilan. Kemudaian dia bekerja di sana selama setahun. Setelah sekitar enam bulan dia berhenti dan kembali. Seseorang bertanya mengapa ia pulang pada hal belum satu tahun?  Dia menjawab bahwa dia mengajar dan memimpin jemaat untuk melakukan kunjungan perlawatan, pelayanan memenangkan jiwa. Mereka kemudian pergi dari pintu ke pintu, mereka berbicara dan berdoa bersama orang yang terhilang, mereka memenangkan orang terhilang tersebut kepada Kristus, dan para petobat baru berjanji untuk menghadiri ibadah gereja, mengungumkan pengakuan iman baru yang mereka temukan dalam Kristus, dan akan dibaptis untuk menjadi anggota gereja. Tetapi ketika pada hari di mana panggilan diadakan, mereka hadir sebagai pendengar, tetapi tidak ada apapun yang terjadi. Hal itu sangat mematahkan hati. Sang pemimpin itu kembali ke rumah para petobat baru dengan pertanyaan: “Mengapa anda tidak maju ke depan? Anda berada di sana. Saya melihat anda. Mengapa anda tidak merespon?”  Para petobat baru itu tidak dapat menjawab; mereka tidak dapat mengungkapkan alasan yang berasal dari dalam hati. Tetapi pemimpin penginjilan itu menjawab pertanyaan itu bagi mereka dan saya. Hal itu terjadi karena kurangnya respon dan karena dinginnya sikap sang pendeta dan suasana yang sangat dingin sekali di dalam gereja itu. 

Pelayanan penginjilan di gereja (dan harus termasuk dalam setiap pelayanan ibadah) harus memiliki karakteristik umum seperti ini:

1.       Orang-orang yang hadir harus memiliki pikiran yang telah diset untuk penginjilan.

2.       Suasana gereja harus menjadi tempat sambutan yang hangat. Mereka lahir di dalam kandungan yang hangat dan diselimuti oleh kehangatan darah sang ibu.

3.       Harus ada peranan kontribusi yang dibuat oleh orang yang mencurahkan pikiran kepada Kristus, penyambut yang penuh kasih dan penyambut tamu.

4.       Gereja harus dipenuhi oleh kasih yang berharga dari perseku-tuan jemaat.

5.       Orang-orang beriman dikunjungi oleh hamba Allah. Jika kita tidak tertarik untuk melakukan kunjungan, mengapa kita mengharapkan orang yang terhilang untuk datang?

6.       Adalah baik untuk memiliki musik yang mengingatkan jiwa.

7.       Sebuah persiapan yang mantap sebelum pertemuan. Hal ini termasuk masalah kunjungan, pertemuan doa, campur tangan pribadi, pengakuan, komitmen, dan semua kebajikan-kebajikan dimana Kristus dapat menggunakannya untuk meraih kerohanian mereka yang acuh tak acuh.

Dengan hati yang penuh kehangatan pendeta mengkhotbah-kan khotbah penginjilan, khotbah Injil. Jika dia mendedikasi-kan dirinya sendiri untuk berpaling kepada semua hal yang dia sampaikan, terhadap sebuah eskpresi seruan dalam undangan yang klimaks, Allah akan menggunakan dia dengan luar biasa.

Philiph Brooks berkata, “Tidak dibutuhkan seorang manusia yang besar untuk melakukan pekerjaan yang besar; hal itu hanya memerlukan orang yang penuh konsentrasi.”

1.       Jika di sana ada doa, persiapan, kehadiran jemaat, khotbah Firman, dan kehadiran dari kuasa Roh Kudus maka akan ada pelayanan sukacita dari keselamatan dan jiwa-jiwa yang diselamatkan. Hal itu tidak akan pernah gagal. Tetapi jika hal-hal tersebut tidak ada maka pelayanan akan mandul dan tandus.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

5. HAMBA TANPA NAMA

            Ia seorang kepala bagian rumah tangga di gereja. Setiap hari Jumat dan Sabtu, ia bertugas menjaga agar semua peralatan e...