Kisah Para Rasul 17:16-34. Ada dua variabel dari tema kita saat ini. Kedua variabel dimaksud ialah:
Pertama, Penginjilan. Penginjilan merupakan
rancangan dan karya TUHAN Allah. Artinya, penginjilan dimulai oleh TUHAN Allah
dan Dia jugalah sebagai pelaku penginjilan. Dalam frame ini dapat dikatakan
bahwa TUHAN Allah ialah PENGINJIL. Dikatakan demikian, karena ketika
Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3), TUHAN Allah mencari Adam dan
Hawa. Ini merupakan AKSI PENGINJILAN PERTAMA dalam Alkitab. Lebih dari
pada itu, aksi TUHAN Allah yang mencari Adam dan Hawa menjadi KABAR BAIK
bagi manusia pertama dan juga keturunannya. KABAR BAIK itu memberi
harapan bagi semua manusia.
Kedua, Kontekstual. Istilah kontekstual selalu dipakai dalam dunia teologi penginjilan dan misi. Istilah ini menunjuk kepada suatu pola pendekatan penginjilan/misi yang bisa diterima oleh konteks di mana aksi penginjilan/misi dilakukan. Berdasarkan landasan pemahaman itulah, maka munculah istilah penginjilan yang kontekstual. Pertanyaannya ialah siapa pelaku utama dari penginjilan yang kontekstual ini? Jawabannya ialah TUHAN Allah.
Jadi, TUHAN Allahlah PELAKU UTAMA dari penginjilan yang kontekstual. Dikatakan demikian, karena ketika Ia datang ke dalam dunia ini untuk menyelamatkan manusia, Ia datang dalam rupa manusia (BERINKARNASI) - (Filipi 2:6-8). Ini merupakan bentuk pendekatan yang kontekstual. Dalam penginjilan rasul Paulus (Kisah Para Rasul 17:16-34), ada beberapa prinsip penginjilan yang kontekstual, yaitu:
I. Paulus melakukan analisa dan pengamatan yang
mendalam. Semua hal yang berkaitan
dengan konteks Atena diamati dan dianalisa secara seksama dan mendalam oleh
rasul Paulus. Dari hasil analisis dan pengamatannya ditemukan bahwa orang-orang
Atena adalah orang-orang yang memiliki kebiasaan (habit) beribadah. Hal ini
ditandai dengan adanya patung-patung berhala (Kisah 17:16); mezbah pemujaan
(Kisah 17:23). Selain itu, orang Atena juga punya kebiasaan (habit) terbuka
akan pengajaran yang baru. Hal ini ditandai dengan adanya aliran filsafat
yaitu Epikuros dan Stoa (Kisah 17:17). Ditambah lagi dengan adanya
lembaga yang menangani masalah-masalah moral dan keagamaan yaitu lembaga
Aeropagus (Kisah 17:19).
II. Paulus menyusun strategi penginjilan. Setelah rasul Paulus melakukan pengamatan dan analisa yang mendalam, ia menyiapkan strategi untuk melakukan penginjilan. Ada beberapa strategi penginjilan yang dilakukan oleh rasul Paulus di Atena, yaitu: Pertama, menjumpai orang-orang di rumah ibadah dan di pasar (Kisah 17:17; Kedua, bertukar pikiran (Kisah 17:17); Ketiga, bersoal jawab (Kisah 17:18); Keempat, mengajar (Kisah 17:19-31). Rasul Paulus memulai penginjilannya dengan mengangkat ketaatan mereka dalam hal beribadah (Kisah 17:22); dan menjadikan tulisan "kepada Allah yang tidak dikenal" yang terpampang pada mezbah pemujaan mereka sebagai titik tolak untuk menjelaskan tentang Allah yang benar, yaitu Allah pencipta (Kisah 17:24); Allah yang memberi hidup (Kisah 17:25); Allah yang menjadikan bangsa-bangsa dan umat manusia serta menempatkannya untuk mendiami seluruh bumi (Kisah 17:26); Allah yang kepada-Nya semua manusia harus bertobat (KPR 17:30); Allah yang akan menghakimi dunia melalui seorang yang telah ditentukan-Nya, yang telah mati dan dibangkitkan-Nya dari antara orang mati (Kisah 17:31).
III. Paulus berhasil memenangkan jiwa. Setelah rasul Paulus melakukan pengamatan, analisis dan diikuti dengan strategi aksi yang mumpuni, kita melihat ada hasilnya, yaitu ada jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Kristus. Jiwa-jiwa dimaksud antara lain Dionisius dan Damaris (Kisah 17:34).
Kita melihat pola dan model penginjilan yang kontekstual yang telah berhasil dilakukan oleh rasul Paulus. Tentu pola tersebut bisa bermanfaat bagi kita dalam melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus yaitu memenangkan jiwa bagi-Nya dalam konteks mereka. Kita memohon agar Tuhan menolong kita dalam memberitakan Injil kepada jiwa-jiwa yang masih berada di dalam dosa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar